[CERPEN] Tidak Ada Salahnya Mencoba
Gedung besar beridiri tegap tanpa penghuni di
sebagian bidang tanah di sekolah menengah atas yang dihuni oleh ribuan siswa. Miliaran
dana yang pemerintah keluarkan seolah tak berguna. Gedung-gedung yang didirikan
sebagai penunjang pendidikan seakan hanya menjadi pajangan di sudut rumah.
Bagai kipas angin yang lama tak digunakan, buku-buku
di perpustakaan penuh debu karena lama tak dibaca. Hanya laba-laba yang setia
menghinggapi dan membuat rumah diantara rak buku. Langit-langit terlihat
bernoda gelap akibat endapan air yang bocor ketika hujan, kursi-kursi pun
banyak kehilangan busanya sehingga membuat bokong sakit saat menduduki kursi
yang mungkin sudah lima tahun ada di gedung ini.
Dinda, seorang siswi yang gemar membaca dan selalu
menjaga kerbersihan baru saja pindah ke sekolah menengah atas ini. Dinda pindah
karena orang tuanya yang berprofesi sebagai polisi dipindah tugaskan dari
Putusibau ke Pontianak. Dinda dulunya adalah ketua OSIS di sekolah lamanya, ia
terkenal sebagai ketua OSIS yang bijaksana dan berkarisma sehingga membuat
teman-temannya mendukung program yang dibuatnya.
Namun saat ia menelusuri sekolah barunya, ia cukup
prihatin melihat ruangan yang terpisah dari gedung utama. Ia kemudian melihat
daftar hadir di meja yang dijaga seorang guru. Semakin prihatin dan kecewa Dinda
melihat buku seukuran kertas polio yang tak berisi nama pengunjung, buku-buku
yang penuh debu semakin menandakan keberadaan perpustakaan ini hanya sebagai
pelengkap sebuah sekolah.
“Permisi Bu, perpustakaan ini lengkap tidak
buku-bukunya? Tetapi mengapa tidak ada yang mengunjungi?” tanya Dinda dengan
penuh tanda tanya.
“Ya begitu Nak, anak-anak di sini minat bacanya
sedikit. Sekolah sudah menjalankan beberapa program namun program itu tidak
berjalan dengan semestinya.” Jawab Ibu perpustakaan itu.
“Bagaimana dengan OSIS-nya? Apakah ada program yang
dibuat untuk menggalang minat baca siswa?” tanya Dinda bak wartawan.
“Sama saja Nak, siswa di sini sebagian besar susah
untuk mengikuti program sekolah maupun OSIS.” Jawab Ibu yang sehari-hari
menjaga ruangan ini.
Dinda pun melanjutkan untuk berkeliling sekolah bersama
teman barunya, Elza.
Seminggu kemudian digelar pemilihan ketua OSIS baru,
berbekal kemampuan yang dimilikinya dan segudang visi misi yang diusungnya.
Dinda ikut pemilihan ketua OSIS tersebut.
“Assalamu’alaikum warahmatulllahi wabarakatu.....”
Dengan suara lantang penuh percaya diri dan diakhiri
tepuk tangan dari siswa-siswi yang cukup puas dengan visi misi yang
disampaikannya.
Perhitungan suara pun dimulai, Dinda terlihat
mendominasi perolehan suara. Dengan perolehan 563 suara unggul jauh dari calon
yang lain, Dinda pun resmi menjadi ketua OSIS baru.
Dinda pun mulai menjalankan program utamanya yaitu
menumbuhkan minat baca siswa-siswi sekolah ini.
Program kerja
OSIS
1.
Membaca lima belas menit setiap hari
2.
Membuat perpustakaan mini di kelas
3.
Menghidupkan perpustakaan sebagai tempat menimba
ilmu
4.
Menjaga kebersihan lingkungan baik di kelas maupun di
luar kelas
Bel berbunyi sekali, tanda ketua kelas dipanggil. Ruang
perpustakaan menjadi tempat mengumpulkan para pemimpin kelas. Dinda menjelaskan
masalah program kerjanya dan masalah yang ditimpa perpustakaan sekolahnya.
Dengan semangat, Dinda meyakinkan para ketua kelas
agar dapat mendukung dan mengajak temannya untuk mengikuti program OSIS.
Elza yang awalnya adalah orang asing bagi Dinda kini
mereka berdua menjadi sahabat, mereka berdua dikenal dengan DUO
3B-Bijak,Bersih,Baca. Julukan itu muncul karena kepiawaian mereka dalam
bersikap dan tingkah laku mereka yang sangat menjunjung kebersihan.
Beberapa minggu berlalu, setelah dideklarasikannya
program OSIS kini sudah terlihat hasil dari programnya, sekolah itu menjadi lebih
bersih dari sebelumnya. Gedung besar penuh debu dan sarang laba-laba kini
menjadi tempat favorit bagi setiap siswa, perpustakaan sekarang dipenuhi
siswa-siswi saat istirahat maupun saat tidak ada guru mengajar di kelas.
Sambil berkeliling di selasar Dinda dan Elza saling
mengomentari kerjaan mereka.
“Din, kamu sukses ya, dengan kedatangan kamu disini
membuat sekolah ini hidup kembali. Kamu hebat aku bangga mengenal kamu sejak
awal.” Ucap Elza yang bangga melihat hasil kerja Dinda.
“Ya begitulah, itu semua berasal dari pengalamanku
bersekolah di Putusibau, ketika aku duduk di sekolah itu kondisinya hampir sama
seperti ini bahkan lebih parah karena sekolahku berada lumayan jauh dari kota. Dengan
bekal percaya diri dan kenginginan dari kita untuk merubah sesuatu, kita pasti
bisa melakukannya.” Ujar gadis dari ujung Provinsi Kalimantan Barat itu.
“Benar Din, dan itu semua juga akan sukses dengan partisipasi
seluruh siswa disini. Kamu termasuk ketua OSIS hebat. Sebelum kamu, tidak ada
yang bisa mengendalikan sekolah ini apalagi anak kelas 3 nya, yang paling susah
diajak kerja sama” tanggap Elza seusai mendengar pernyataan Dinda.
“Sebenarnya kamu juga bisa kok Za, hanya kesempatan
saja yang belum datang ke kamu hehe.” Gurauan Dinda kepada Elza yang terus
memujinya.
Terlihat seorang guru melambai pada mereka, seakan
sebuah kode untuk mereka pergi kesana.
Ruangan ber-AC dimasukinya, ruangan seorang pemimpin
sekolah. Segan rasanya, namun mereka harus tetap masuk. Terlihat seorang
pewawancara dan seorang notulis duduk di sofa.
Mereka ternyata akan mewawancarai Dinda, Dinda
diwawancarai sebagai ketua OSIS tersukses di Kalimantan Barat tahun 2015.
Sehari berselang, wajah mereka berdua terpampang di
laman utama surat kabar, ada sedikit petikan kata-kata dalam artikel itu yang berbunyi.
“Tidak ada
kata gagal sebelum dicoba, hanya sifat pesimis yang membuat kita menjadi gagal.
Selagi ada niat yang kuat dalam hati maka semua akan mudah dijalani”
2 tahun berselang, Dinda sudah meninggalkan sekolah
ini dan melanjutkan pendidikan di jenjang yang lebih tinggi. Jasa-jasa Dinda
dikenang pihak sekolah, bahkan dipajang fotonya di sudut dinding perpustakaan.
Program yang dicetusnya berjalan terus dan semakin berkembang, banyak prestasi
mulai terukir melalui bidang menulis dan pendidikan.
Karya : Reza Efriansyah
Event : Lomba Menulis Cerpen Dalam Rangka HUT SMAN 1 Pontianak
Tema : Kembangkan Sayap Pendidikan Melalui Generasi 3B(Bijak, Baca, Bersih)
Hasil : Juara 1