Diberdayakan oleh Blogger.

Text Widget

Contributors

Followers

Pages

Ordered List

Sabtu, 08 Oktober 2016

[CERPEN] Tidak Ada Salahnya Mencoba


Gedung besar beridiri tegap tanpa penghuni di sebagian bidang tanah di sekolah menengah atas yang dihuni oleh ribuan siswa. Miliaran dana yang pemerintah keluarkan seolah tak berguna. Gedung-gedung yang didirikan sebagai penunjang pendidikan seakan hanya menjadi pajangan di sudut rumah.
Bagai kipas angin yang lama tak digunakan, buku-buku di perpustakaan penuh debu karena lama tak dibaca. Hanya laba-laba yang setia menghinggapi dan membuat rumah diantara rak buku. Langit-langit terlihat bernoda gelap akibat endapan air yang bocor ketika hujan, kursi-kursi pun banyak kehilangan busanya sehingga membuat bokong sakit saat menduduki kursi yang mungkin sudah lima tahun ada di gedung ini.
Dinda, seorang siswi yang gemar membaca dan selalu menjaga kerbersihan baru saja pindah ke sekolah menengah atas ini. Dinda pindah karena orang tuanya yang berprofesi sebagai polisi dipindah tugaskan dari Putusibau ke Pontianak. Dinda dulunya adalah ketua OSIS di sekolah lamanya, ia terkenal sebagai ketua OSIS yang bijaksana dan berkarisma sehingga membuat teman-temannya mendukung program yang dibuatnya.
Namun saat ia menelusuri sekolah barunya, ia cukup prihatin melihat ruangan yang terpisah dari gedung utama. Ia kemudian melihat daftar hadir di meja yang dijaga seorang guru. Semakin prihatin dan kecewa Dinda melihat buku seukuran kertas polio yang tak berisi nama pengunjung, buku-buku yang penuh debu semakin menandakan keberadaan perpustakaan ini hanya sebagai pelengkap sebuah sekolah.
“Permisi Bu, perpustakaan ini lengkap tidak buku-bukunya? Tetapi mengapa tidak ada yang mengunjungi?” tanya Dinda dengan penuh tanda tanya.
“Ya begitu Nak, anak-anak di sini minat bacanya sedikit. Sekolah sudah menjalankan beberapa program namun program itu tidak berjalan dengan semestinya.” Jawab Ibu perpustakaan itu.
“Bagaimana dengan OSIS-nya? Apakah ada program yang dibuat untuk menggalang minat baca siswa?” tanya Dinda bak wartawan.
“Sama saja Nak, siswa di sini sebagian besar susah untuk mengikuti program sekolah maupun OSIS.” Jawab Ibu yang sehari-hari menjaga ruangan ini.
Dinda pun melanjutkan untuk berkeliling sekolah bersama teman barunya, Elza.
Seminggu kemudian digelar pemilihan ketua OSIS baru, berbekal kemampuan yang dimilikinya dan segudang visi misi yang diusungnya. Dinda ikut pemilihan ketua OSIS tersebut.
“Assalamu’alaikum warahmatulllahi wabarakatu.....”
Dengan suara lantang penuh percaya diri dan diakhiri tepuk tangan dari siswa-siswi yang cukup puas dengan visi misi yang disampaikannya.
Perhitungan suara pun dimulai, Dinda terlihat mendominasi perolehan suara. Dengan perolehan 563 suara unggul jauh dari calon yang lain, Dinda pun resmi menjadi ketua OSIS baru.
Dinda pun mulai menjalankan program utamanya yaitu menumbuhkan minat baca siswa-siswi sekolah ini.
Program kerja OSIS
1.      Membaca lima belas menit setiap hari
2.      Membuat perpustakaan mini di kelas
3.      Menghidupkan perpustakaan sebagai tempat menimba ilmu
4.      Menjaga kebersihan lingkungan baik di kelas maupun di luar kelas
Bel berbunyi sekali, tanda ketua kelas dipanggil. Ruang perpustakaan menjadi tempat mengumpulkan para pemimpin kelas. Dinda menjelaskan masalah program kerjanya dan masalah yang ditimpa perpustakaan sekolahnya.
Dengan semangat, Dinda meyakinkan para ketua kelas agar dapat mendukung dan mengajak temannya untuk mengikuti program OSIS.
Elza yang awalnya adalah orang asing bagi Dinda kini mereka berdua menjadi sahabat, mereka berdua dikenal dengan DUO 3B-Bijak,Bersih,Baca. Julukan itu muncul karena kepiawaian mereka dalam bersikap dan tingkah laku mereka yang sangat menjunjung kebersihan.
Beberapa minggu berlalu, setelah dideklarasikannya program OSIS kini sudah terlihat hasil dari programnya, sekolah itu menjadi lebih bersih dari sebelumnya. Gedung besar penuh debu dan sarang laba-laba kini menjadi tempat favorit bagi setiap siswa, perpustakaan sekarang dipenuhi siswa-siswi saat istirahat maupun saat tidak ada guru mengajar di kelas.
Sambil berkeliling di selasar Dinda dan Elza saling mengomentari kerjaan mereka.
“Din, kamu sukses ya, dengan kedatangan kamu disini membuat sekolah ini hidup kembali. Kamu hebat aku bangga mengenal kamu sejak awal.” Ucap Elza yang bangga melihat hasil kerja Dinda.
“Ya begitulah, itu semua berasal dari pengalamanku bersekolah di Putusibau, ketika aku duduk di sekolah itu kondisinya hampir sama seperti ini bahkan lebih parah karena sekolahku berada lumayan jauh dari kota. Dengan bekal percaya diri dan kenginginan dari kita untuk merubah sesuatu, kita pasti bisa melakukannya.” Ujar gadis dari ujung Provinsi Kalimantan Barat itu.
“Benar Din, dan itu semua juga akan sukses dengan partisipasi seluruh siswa disini. Kamu termasuk ketua OSIS hebat. Sebelum kamu, tidak ada yang bisa mengendalikan sekolah ini apalagi anak kelas 3 nya, yang paling susah diajak kerja sama” tanggap Elza seusai mendengar pernyataan Dinda.
“Sebenarnya kamu juga bisa kok Za, hanya kesempatan saja yang belum datang ke kamu hehe.” Gurauan Dinda kepada Elza yang terus memujinya.
Terlihat seorang guru melambai pada mereka, seakan sebuah kode untuk mereka pergi kesana.
Ruangan ber-AC dimasukinya, ruangan seorang pemimpin sekolah. Segan rasanya, namun mereka harus tetap masuk. Terlihat seorang pewawancara dan seorang notulis duduk di sofa.
Mereka ternyata akan mewawancarai Dinda, Dinda diwawancarai sebagai ketua OSIS tersukses di Kalimantan Barat tahun 2015.
Sehari berselang, wajah mereka berdua terpampang di laman utama surat kabar, ada sedikit petikan kata-kata dalam artikel itu yang berbunyi.
Tidak ada kata gagal sebelum dicoba, hanya sifat pesimis yang membuat kita menjadi gagal. Selagi ada niat yang kuat dalam hati maka semua akan mudah dijalani”

2 tahun berselang, Dinda sudah meninggalkan sekolah ini dan melanjutkan pendidikan di jenjang yang lebih tinggi. Jasa-jasa Dinda dikenang pihak sekolah, bahkan dipajang fotonya di sudut dinding perpustakaan. Program yang dicetusnya berjalan terus dan semakin berkembang, banyak prestasi mulai terukir melalui bidang menulis dan pendidikan. 


Karya : Reza Efriansyah
Event : Lomba Menulis Cerpen Dalam Rangka HUT SMAN 1 Pontianak
Tema : Kembangkan Sayap Pendidikan Melalui Generasi 3B(Bijak, Baca, Bersih)
Hasil : Juara 1

0 komentar:

Posting Komentar