Diberdayakan oleh Blogger.

Text Widget

Contributors

Followers

Pages

Ordered List

Sabtu, 08 Oktober 2016

[CERPEN] Alam Itu Menyenangkan


Matahari kembali ke ufuk barat, tenggelam dalam kesemerautan Kota Metropolitan. Desing motor berpacu di jalanan menuju rumah peristirahatan. Istirahat dari rutinitas seharian penuh. Asap carbone monoksida bertebaran memapar wajah dibalik pelindung kepala, raut wajah letih menghampiri pengendara yang terjebak di kemacetan menuju arah pulang. Setumpuk kendaraan terlihat berjalan merangkak menaiki jalur jembatan yang menjembatani dua kecamatan, dua daerah yang terletak dalam satu kota yang terkenal dengan Kota Perdagangan dan Jasa. Lalu lintas air terlihat padat banyak sampan dan kapal-kapal besar lalu lalang mengangkut hasil tambang dari hulu sungai. Perairan tenang, menjadi tempat anak-anak bersuka ria, ada yang bermain kano atau berenang di tepian sungai.

Boby, mengendarai motor 150cc nya terjebak dalam tumpukan kendaraan berbahan bakar premium, pertalite atau mungkin juga pertamax. Apapun itu, jelas menimbulkan polusi yang berdampak pada kelangsungan lingkungan hidup ke depannya terlebih di Kota Pontianak ini. Masker hijau yang terbalut di wajah Boby berhasil di tembus kerumunan gas carbone monoksida. Sesak di dada terasa walaupun tidak begitu parah, jelas itu tidak mengenakan. Alhasil celah-celah kosong di jalanan di susuri agar bisa segera pergi dari kerumunan gas yang dapat merusak paru-paru anak SMA ini.

“Tiiiiiitt.......tiiiiit.....”

“Aduh, itu polisi gimana sih ngaturnya kok gak jalan-jalan!”

“Ini nih yang seharusnya diperhatikan pemerintah!”

Bising kendaraan dan suara pengendara menghiasi jalanan.

Sepuluh menit waktu yang di butuhkan Boby untuk melewati agar bisa lepas dari desing kendaraan roda dua, empat, bahkan enam itu. Rumah sederhana dengan dua lantai berhasil di singgahinya, kendaraan pabrikan Jepang itu terparkir dekat taman hijau di bawah kamarnya yang berada di lantai dua. Taman hijau yang sengaja di request kepada Ayahnya lima tahun silam, sebelum merenovasi rumah yang awalnya hanya satu lantai itu. Fungsinya ya agar dapat merasakan betapa hijaunya alam walaupun hanya secuil tanah di perkarangan rumah.

“Aku pulang” teriak Boby memasuki pintu setinggi dua meter

“Langsung mandi ya nak” suruh Ibu paruhbaya di rumah itu

Boby bergegas ke lantai dua menyimpan peralatan dinas sehari-harinya tadi. Kemudian menuju ruangan dengan luas empat meter persegi untuk menghilangkan kawanan gas-gas beracun yang menempel di kulit remaja tujuh belas tahun ini.

”Sudah selesai mandinya?” suara ke-ibuan keluar dari wanita paruhbaya satu-satunya di rumah itu

“Sudah ma, Boby ke atas dulu ya ganti pakaian lalu ntar langsung ke meja makan”

Wanita satu-satunya? Pria tunggal? Ya Boby dan ibunya tinggal berdua di sebuah rumah itu, ayahnya sudah pergi meninggalkan  mereka 2 tahun silam. Bencana alam lah yang membawa sang Ayah pergi meninggalkan Boby dan Ibunya ke zat yang menciptakan manusia.

Dua tahun lalu terjadi bencana yang menimpa Ayahnya, saat itu Ayah Boby pergi memancing bersama temannya di daerah muara Sungai Kapuas. Langit terlukis gelap saat itu, menandakan akan turun hujan yang entah itu deras ataupun biasa saja. Perahu dua meter yang digunakan sebagai tempat berpijak itu sedang berada di tengah sungai yang terkenal dengan sungai terpanjang se-Indonesia itu. Kail pancing yang di pasang di tarik sebuah ikan yang mungkin besar, itu terlihat dari gagang pancing yang bengkok hampir membentuk setengah lingkaran sempurna. Sang ayah berusaha menggulung senar, alhasil dua puluh menit berlalu ikan belum juga berhasil di tarik. Di kejauhan terlihat pusaran angin yang diikuti rintik hujan dan gemuruh petir mengarah ke perahu terbuat dari kayu itu, pancing yang bengkok tadi terlepas dan tangan pria lima puluh tahun itu mengarah ke dayung sampan di sebelahnya seakan motor yang di tancap gas, secepat itulah kayuhan sang ayah di bantu temannya. Jarak sungai ke tepian begitu lebar, tenaga dua orang itu tak mampu menandingi kecepatan angin yang membuat air bergelombang dan menghambat laju sampan kecil itu. Gelombang begitu besar membuat sampan mereka terbalik, keduanya melanjutkan dengan berenang untuk menghidari angin yang mengamuk itu. Di karenakan tenaga yang hampir habis karena mendayung tadi, sang ayah termakan gelombang dan tenggelam bersama pusaran angin yang sepuluh menit kemudian reda.
Sejak saat itulah Boby tinggal berdua denga Ibunya boby sempat hancur pada saat itu. Beberapa bulan ia masih sedih dan kebetulan pada saat ayahnya meninggal. Ia baru duduk di bangku kelas satu SMA.
***
Sahabat, ia punya dua orang sahabat Dina dan Rangga. Kedua orang inilah yang selalu memberikan semangat kepada Boby untuk semangat kembali mengarui lautan kehidupan. Mereke bertiga telihat akrab sejak bertemu di sebuah ekstrakurikuler di sekolah. Yaitu ekstrakurikuler SISPALA-Siswa Pecinta Alam, sebuah ekstrakurikuler yang kegiatannya banyak berkecimpung dengan alam. Walaupun berbeda asal sekolah namun mereka mempunyai kemampuan untuk memahami satu sama lain sehingga walaupun beru seumur jagung berkenalan mereka sudah bisa akrab.
***
“Bob, kantin yuk!” Ajak Rangga yang sudah keroncongan sejak jam pertama tadi

“Nggak ahh, aku ada bekal. Kalo mau aku temenin aja”

“Ahh nggak asik nih, lain kali bilang-bilang dong kalo mau bekal” dan nada menggerutu sambil meninggalkan bangku yang sudah diduduki dari jam tujuh tadi.

“Ehh, ajak Dina juga dong, yuk ke kelasnya”
***
Terpampang sebuah poster ukuran empat-A di mading selasar kelas sepuluh. Menjelaskan sebuah kegiatan tahunan sekolah. CROSS COUNTRY, huruf kapital besar dengan aksen yang menarik serta warna hijau mencolok. Menyedot perhatian warga baru sekolah ini.

“Dina, Rangga, gimana? Tertarik ngga nih?” tanya Bobby yang sudah kepincut sama tawaran poster itu.

“Siapa takut, yuk kita bentuk tim tinggal cari dua orang lagi”
Bobby sangat tertarik dengan kegiatan di alam, seperti CROSS COUNTRY ini. Ia sangat tertarik untuk melintasi hutan belantara dimalam hari.
***
Boby, Dina, Rangga dan dua rekan mereka lainnya Alisa dan Nabila. Sepakat menanamai tim mereka THE SURVIVAL.

“Akhirnya, dapat juga nama tim kita” perasaan lega Dina setelah nama tim dan perlengkapan sudah hampir siap semua.

“Ya, sesuai dengan nama tim kita. Maka kita harus bisa bertahan dalam kondisi apapun jangan ada yang mengeluh sampai garis finis. Tujuan kita bukan menang hanya mencari pengalaman dan berpartisipasi tetapi dimana ada kesempatan buat menang jangan sekali-kali disia-siakan” nasihat Bobby yang memegang tanggung jawab sebagai ketua tim

“Besok kita kumpul di sekolah jam tiga, jangan sampai ada barang yang tinggal siapkan saat di rumah nanti”

“Ya benar, terutama kue ya hehe” ujar Alisa yang suka sekali makan
***

“Mana sih mereka, udah ga bisa bawa hape gimana coba mau menghubungi mereka. Dasar manusia karet, apa-apa telat mulu”

Bobby menggusar melihat temannya belum terlihat di seluruh penjuru sekolah

“Hai  Bob!” Rangga berteriak dari tempat parkir yang tak jauh dari Bobby berdiri

“Hah dari mana saja sih lama banget!” muka Bobby terlihat asam seperti buah mangga yang belum matang. “Ahh santai aja Bob, belum juga mulai”

“Lalu yang lainnya dimana?” cerca Bobby yang belum hilang juga gusar di hatinya “Ada kok di belakang aku tadi bentar lagi mungkin juga sampai...”

“Nah, itu mereka. Sudah kubilang kan, kami pasti datang kok pak ketua haha”
***
“Hiduplah Indonesia Raya.......”

Lagu kebangsaan berkumandang serentak, suasa hening menyelimuti seremoni pembukaan CROSS COUNTRY ini. Ucapan basmalah menjadi tanda bahwa resmi dibukanya kegiatan ini oleh kepala sekolah.

Tim Bobby menduduki urutan ke tiga puluh dua dari seratus dua tim.

“Waduh masih lama nih, kamu sih Bob ngga bagus tangannya jadi urutan kita jauh deh” keluh Nabila yang tak kuasa menunggu. “ahh kamu, kalo ngga ada aku ngga tau deh bakal dapat nomor undia berapa. Makanya kalo tangan kalian hocky ya kalian dong yang datang. Huu.”

“sudah-sudah, jalani aja guy. Ya mungkin ini angka terbaik kita, ambil positifnya aja deh” seru Dina sebagai penengah.

“Tapi nih ya, aku takut nanti pas jalan. Hutan itu kan alam bebas, aku takut ada hewan liar yang menggigit kita nanti” ujar Nabila yang sejak awal takut untuk ikut kegiatan ini.

“Apa sih yang ditakutin, alam itu adalah teman kita. Kita hidup bersanding dengan alam, walaupun hutan adalah alam liar tapi aku yakin selama kita ditidak mengganggu apa yang ada disana kita juga tidak akan di ganggu oleh penghuninya” Rangga meyakinkan, Nabila yang semakin takut.
Tidak terasa, asik bercerita. Nomor undian mereka kini dipanggil, mereka pun segera mempersiapkan diri dan barang-barang.

Pos satu-dua-tiga-empat-lima adalah tujuan mereka, setiap pos yang dilalui akan menimbulkan tantangan yang menarik yang akan sedikit membingungkan otak mereka berlima.

Mereka dilatih untuk bekerja sama dan melatih kemampuan diri serta kemampuan untuk memimpin, dan disepanjang jalan juga akan ditemui jebakan yang sudah disusun pihak panitia.
***
“Yah, akhirnya sampai juga di pos terakhir” seru Alisah yang sudah terlihat letih. “Eits, ingat setelah ini masih ada jalan pulang kembali ke sekolah kita” ujar Bobby yang sepanjang jalan menyemangati teman-temannya yang berjuang melawan sengal di otot kaki yang dilumuri lumpur sehingga membuat beban bawaan menjadi berat.

“Istirahat dulu yuk bentar, kakiku sudah ngga kuat nih” raut wajah letih sudah tergambar di wajah Dina.
***
Lima jam berlalu, jarak dua puluh kilometer sudah ditempuh. Oleh-oleh dari semak belukar di bawa, berupa lumpur dan rumput yang melekat ke baju mereka. Keran air menjadi bantuan satu-satunya untuk menghilangkan noda-noda yang membuat gatal ini.

“Bagaimana  Nabila? Betulkan kataku alam adalah teman?” tanya Rangga ke Nabila yang sebelumnya takut itu

“Iya Rangga, asik sekali ya. Aku jadi senang berpetuaalang di alam bebas. Aku dapat mengetahui tentang apa saja di alam liar, aku pengen ikut lagi di tahun selanjutnya” jelas Nabila yang sangat tertarik dengan kegiatan ini.

Seminggu setelah kegiatan ini, mereka memutuskan untuk ikut ekstrakurikuler SISPALA, mereka berlima jadi cinta kepada alam setelah CROSS COUNTRY itu, mereka telah belajar bahwa segala yang ada di alam adalah teman, apabila alam diperlakukan dengan baik maka timbal baliknya akan baik pula.








Karya : Reza Efriansyah
Event : Lomba Menulis Cerpen Nasional
Tema : Cerita Dari Alam
Penyenglenggara : Penerbit Ernest dan Arjuna Adventure
Hasil : -

0 komentar:

Posting Komentar