[CERPEN] Alam Itu Menyenangkan
Matahari kembali ke
ufuk barat, tenggelam dalam kesemerautan Kota Metropolitan. Desing motor
berpacu di jalanan menuju rumah peristirahatan. Istirahat dari rutinitas
seharian penuh. Asap carbone monoksida
bertebaran memapar wajah dibalik pelindung kepala, raut wajah letih menghampiri
pengendara yang terjebak di kemacetan menuju arah pulang. Setumpuk kendaraan
terlihat berjalan merangkak menaiki jalur jembatan yang menjembatani dua
kecamatan, dua daerah yang terletak dalam satu kota yang terkenal dengan Kota
Perdagangan dan Jasa. Lalu lintas air terlihat padat banyak sampan dan
kapal-kapal besar lalu lalang mengangkut hasil tambang dari hulu sungai.
Perairan tenang, menjadi tempat anak-anak bersuka ria, ada yang bermain kano
atau berenang di tepian sungai.
Boby, mengendarai motor
150cc nya terjebak dalam tumpukan kendaraan berbahan bakar premium, pertalite atau mungkin juga pertamax. Apapun itu, jelas menimbulkan polusi yang berdampak pada
kelangsungan lingkungan hidup ke depannya terlebih di Kota Pontianak ini.
Masker hijau yang terbalut di wajah Boby berhasil di tembus kerumunan gas carbone monoksida. Sesak di dada terasa
walaupun tidak begitu parah, jelas itu tidak mengenakan. Alhasil celah-celah
kosong di jalanan di susuri agar bisa segera pergi dari kerumunan gas yang
dapat merusak paru-paru anak SMA ini.
“Tiiiiiitt.......tiiiiit.....”
“Aduh, itu polisi
gimana sih ngaturnya kok gak jalan-jalan!”
“Ini nih yang
seharusnya diperhatikan pemerintah!”
Bising kendaraan dan
suara pengendara menghiasi jalanan.
Sepuluh menit waktu
yang di butuhkan Boby untuk melewati agar bisa lepas dari desing kendaraan roda
dua, empat, bahkan enam itu. Rumah sederhana dengan dua lantai berhasil di
singgahinya, kendaraan pabrikan Jepang itu terparkir dekat taman hijau di bawah
kamarnya yang berada di lantai dua. Taman hijau yang sengaja di request kepada Ayahnya lima tahun silam,
sebelum merenovasi rumah yang awalnya hanya satu lantai itu. Fungsinya ya agar
dapat merasakan betapa hijaunya alam walaupun hanya secuil tanah di perkarangan
rumah.
“Aku pulang” teriak
Boby memasuki pintu setinggi dua meter
“Langsung mandi ya nak”
suruh Ibu paruhbaya di rumah itu
Boby bergegas ke lantai
dua menyimpan peralatan dinas sehari-harinya tadi. Kemudian menuju ruangan
dengan luas empat meter persegi untuk menghilangkan kawanan gas-gas beracun
yang menempel di kulit remaja tujuh belas tahun ini.
”Sudah selesai
mandinya?” suara ke-ibuan keluar dari wanita paruhbaya satu-satunya di rumah
itu
“Sudah ma, Boby ke atas
dulu ya ganti pakaian lalu ntar langsung ke meja makan”
Wanita satu-satunya? Pria
tunggal? Ya Boby dan ibunya tinggal berdua di sebuah rumah itu, ayahnya sudah
pergi meninggalkan mereka 2 tahun silam.
Bencana alam lah yang membawa sang Ayah pergi meninggalkan Boby dan Ibunya ke
zat yang menciptakan manusia.
Dua tahun lalu terjadi
bencana yang menimpa Ayahnya, saat itu Ayah Boby pergi memancing bersama
temannya di daerah muara Sungai Kapuas. Langit terlukis gelap saat itu,
menandakan akan turun hujan yang entah itu deras ataupun biasa saja. Perahu dua
meter yang digunakan sebagai tempat berpijak itu sedang berada di tengah sungai
yang terkenal dengan sungai terpanjang se-Indonesia itu. Kail pancing yang di
pasang di tarik sebuah ikan yang mungkin besar, itu terlihat dari gagang pancing
yang bengkok hampir membentuk setengah lingkaran sempurna. Sang ayah berusaha
menggulung senar, alhasil dua puluh menit berlalu ikan belum juga berhasil di
tarik. Di kejauhan terlihat pusaran angin yang diikuti rintik hujan dan gemuruh
petir mengarah ke perahu terbuat dari kayu itu, pancing yang bengkok tadi
terlepas dan tangan pria lima puluh tahun itu mengarah ke dayung sampan di
sebelahnya seakan motor yang di tancap gas, secepat itulah kayuhan sang ayah di
bantu temannya. Jarak sungai ke tepian begitu lebar, tenaga dua orang itu tak
mampu menandingi kecepatan angin yang membuat air bergelombang dan menghambat
laju sampan kecil itu. Gelombang begitu besar membuat sampan mereka terbalik,
keduanya melanjutkan dengan berenang untuk menghidari angin yang mengamuk itu.
Di karenakan tenaga yang hampir habis karena mendayung tadi, sang ayah termakan
gelombang dan tenggelam bersama pusaran angin yang sepuluh menit kemudian reda.
Sejak saat itulah Boby
tinggal berdua denga Ibunya boby sempat hancur pada saat itu. Beberapa bulan ia
masih sedih dan kebetulan pada saat ayahnya meninggal. Ia baru duduk di bangku
kelas satu SMA.
***
Sahabat, ia punya dua
orang sahabat Dina dan Rangga. Kedua orang inilah yang selalu memberikan
semangat kepada Boby untuk semangat kembali mengarui lautan kehidupan. Mereke
bertiga telihat akrab sejak bertemu di sebuah ekstrakurikuler di sekolah. Yaitu
ekstrakurikuler SISPALA-Siswa Pecinta Alam, sebuah ekstrakurikuler yang
kegiatannya banyak berkecimpung dengan alam. Walaupun berbeda asal sekolah
namun mereka mempunyai kemampuan untuk memahami satu sama lain sehingga
walaupun beru seumur jagung berkenalan mereka sudah bisa akrab.
***
“Bob, kantin yuk!” Ajak
Rangga yang sudah keroncongan sejak jam pertama tadi
“Nggak ahh, aku ada
bekal. Kalo mau aku temenin aja”
“Ahh nggak asik nih,
lain kali bilang-bilang dong kalo mau bekal” dan nada menggerutu sambil
meninggalkan bangku yang sudah diduduki dari jam tujuh tadi.
“Ehh, ajak Dina juga
dong, yuk ke kelasnya”
***
Terpampang sebuah
poster ukuran empat-A di mading selasar kelas sepuluh. Menjelaskan sebuah
kegiatan tahunan sekolah. CROSS COUNTRY, huruf
kapital besar dengan aksen yang menarik serta warna hijau mencolok. Menyedot
perhatian warga baru sekolah ini.
“Dina, Rangga, gimana?
Tertarik ngga nih?” tanya Bobby yang sudah kepincut sama tawaran poster itu.
“Siapa takut, yuk kita
bentuk tim tinggal cari dua orang lagi”
Bobby sangat tertarik
dengan kegiatan di alam, seperti CROSS COUNTRY ini. Ia sangat tertarik untuk
melintasi hutan belantara dimalam hari.
***
Boby, Dina, Rangga dan
dua rekan mereka lainnya Alisa dan Nabila. Sepakat menanamai tim mereka THE
SURVIVAL.
“Akhirnya, dapat juga
nama tim kita” perasaan lega Dina setelah nama tim dan perlengkapan sudah
hampir siap semua.
“Ya, sesuai dengan nama
tim kita. Maka kita harus bisa bertahan dalam kondisi apapun jangan ada yang
mengeluh sampai garis finis. Tujuan kita bukan menang hanya mencari pengalaman
dan berpartisipasi tetapi dimana ada kesempatan buat menang jangan sekali-kali
disia-siakan” nasihat Bobby yang memegang tanggung jawab sebagai ketua tim
“Besok kita kumpul di
sekolah jam tiga, jangan sampai ada barang yang tinggal siapkan saat di rumah
nanti”
“Ya benar, terutama kue
ya hehe” ujar Alisa yang suka sekali makan
***
“Mana sih mereka, udah
ga bisa bawa hape gimana coba mau menghubungi mereka. Dasar manusia karet,
apa-apa telat mulu”
Bobby menggusar melihat
temannya belum terlihat di seluruh penjuru sekolah
“Hai Bob!” Rangga berteriak dari tempat parkir yang
tak jauh dari Bobby berdiri
“Hah dari mana saja sih
lama banget!” muka Bobby terlihat asam seperti buah mangga yang belum matang.
“Ahh santai aja Bob, belum juga mulai”
“Lalu yang lainnya
dimana?” cerca Bobby yang belum hilang juga gusar di hatinya “Ada kok di
belakang aku tadi bentar lagi mungkin juga sampai...”
“Nah, itu mereka. Sudah
kubilang kan, kami pasti datang kok pak ketua haha”
***
“Hiduplah Indonesia Raya.......”
Lagu
kebangsaan berkumandang serentak, suasa hening menyelimuti seremoni pembukaan
CROSS COUNTRY ini. Ucapan basmalah
menjadi tanda bahwa resmi dibukanya kegiatan ini oleh kepala sekolah.
Tim
Bobby menduduki urutan ke tiga puluh dua dari seratus dua tim.
“Waduh
masih lama nih, kamu sih Bob ngga bagus tangannya jadi urutan kita jauh deh”
keluh Nabila yang tak kuasa menunggu. “ahh kamu, kalo ngga ada aku ngga tau deh
bakal dapat nomor undia berapa. Makanya kalo tangan kalian hocky ya kalian dong yang datang. Huu.”
“sudah-sudah,
jalani aja guy. Ya mungkin ini angka
terbaik kita, ambil positifnya aja deh” seru Dina sebagai penengah.
“Tapi
nih ya, aku takut nanti pas jalan. Hutan itu kan alam bebas, aku takut ada
hewan liar yang menggigit kita nanti” ujar Nabila yang sejak awal takut untuk
ikut kegiatan ini.
“Apa
sih yang ditakutin, alam itu adalah teman kita. Kita hidup bersanding dengan
alam, walaupun hutan adalah alam liar tapi aku yakin selama kita ditidak
mengganggu apa yang ada disana kita juga tidak akan di ganggu oleh penghuninya”
Rangga meyakinkan, Nabila yang semakin takut.
Tidak
terasa, asik bercerita. Nomor undian mereka kini dipanggil, mereka pun segera
mempersiapkan diri dan barang-barang.
Pos
satu-dua-tiga-empat-lima adalah tujuan mereka, setiap pos yang dilalui akan
menimbulkan tantangan yang menarik yang akan sedikit membingungkan otak mereka
berlima.
Mereka
dilatih untuk bekerja sama dan melatih kemampuan diri serta kemampuan untuk
memimpin, dan disepanjang jalan juga akan ditemui jebakan yang sudah disusun
pihak panitia.
***
“Yah, akhirnya sampai
juga di pos terakhir” seru Alisah yang sudah terlihat letih. “Eits, ingat
setelah ini masih ada jalan pulang kembali ke sekolah kita” ujar Bobby yang
sepanjang jalan menyemangati teman-temannya yang berjuang melawan sengal di
otot kaki yang dilumuri lumpur sehingga membuat beban bawaan menjadi berat.
“Istirahat dulu yuk
bentar, kakiku sudah ngga kuat nih” raut wajah letih sudah tergambar di wajah
Dina.
***
Lima jam berlalu, jarak
dua puluh kilometer sudah ditempuh. Oleh-oleh dari semak belukar di bawa,
berupa lumpur dan rumput yang melekat ke baju mereka. Keran air menjadi bantuan
satu-satunya untuk menghilangkan noda-noda yang membuat gatal ini.
“Bagaimana Nabila? Betulkan kataku alam adalah teman?”
tanya Rangga ke Nabila yang sebelumnya takut itu
“Iya Rangga, asik
sekali ya. Aku jadi senang berpetuaalang di alam bebas. Aku dapat mengetahui
tentang apa saja di alam liar, aku pengen ikut lagi di tahun selanjutnya” jelas
Nabila yang sangat tertarik dengan kegiatan ini.
Seminggu setelah
kegiatan ini, mereka memutuskan untuk ikut ekstrakurikuler SISPALA, mereka
berlima jadi cinta kepada alam setelah CROSS COUNTRY itu, mereka telah belajar
bahwa segala yang ada di alam adalah teman, apabila alam diperlakukan dengan
baik maka timbal baliknya akan baik pula.
Karya : Reza Efriansyah
Event : Lomba Menulis Cerpen Nasional
Tema : Cerita Dari Alam
Penyenglenggara : Penerbit Ernest dan Arjuna Adventure
Hasil : -
Karya : Reza Efriansyah
Event : Lomba Menulis Cerpen Nasional
Tema : Cerita Dari Alam
Penyenglenggara : Penerbit Ernest dan Arjuna Adventure
Hasil : -
0 komentar:
Posting Komentar